Please enable javascript in your browser in order to post message and do other things in this site


2 years ago

Pukul 23.59... Kabin pesawat terasa begitu dingin. Sebagian penumpang memanfaatkan waktu yang ada untuk tidur. Beberapa orang lain nampak sibuk menonton film. Biasanya, sekitar satu jam setelah take-...

Petualangan di Yunnan (Day 1) - Hong Kong's Breakfast

Christian Halim

Pukul 23.59...

Kabin pesawat terasa begitu dingin. Sebagian penumpang memanfaatkan waktu yang ada untuk tidur. Beberapa orang lain nampak sibuk menonton film. Biasanya, sekitar satu jam setelah take-off, cabin crew akan membagikan santap malam terlebih dahulu. Aneh juga sebenarnya, makan berat di tengah malam.

Image/photoin flight entertainment by Christian Halim, on Flickr

Dari tempat saya duduk, tampak troli-troli makanan mulai dikeluarkan. Namun kali ini, dugaan saya agak meleset. Bukan hidangan full course yang disajikan, namun hanya sepotong sandwich dingin, cookies, assortment fruits, dan sekotak kecil lemon tea. Meski begitu, toh rasanya cukup enak. Nah, sekarang ijinkan saya tidur sejenak.

Image/photowhat&#[url=https://mozaik.club/search?tag=x27]x27;s in the box[/url] by Christian Halim, on Flickr

Image/photosandwich and cookies by Christian Halim, on Flickr

Selama penerbangan berlangsung, sulit rasanya untuk mendapatkan tidur yang nyenyak. Beberapa kali saya terbangun, pergi ke toilet, sambil terus-menerus melihat jam tangan. Campuk aduk perasaan antara ingin lekas sampai dan ingin tidur lebih lama. Tampak sepasang cabin crew sedang asyik mengobrol di galley. Tenggorokan yang terasa kering membuat saya meminta sebotol air kepada mereka. Dengan senyum ramah, seorang cabin crew mengambilkannya. Benar-benar pelayanan yang memuaskan, kata saya dalam hati.

Tak terasa, empat jam sudah berlalu. Tampak dari jendela, langit yang gelap perlahan-lahan berubah warna. Satu per satu para penumpang pun terbangun. Ada yang sibuk mengantri ke toilet, ada pula yang asyik memotret pemandangan awan dari tempat duduknya. Sebentar lagi kami akan tiba di Hong Kong untuk transit.

Image/photoblurry morning by Christian Halim, on Flickr

Kira-kira pukul 5.40 waktu setempat, penerbangan CX 798 pun mendarat di bandara internasional Hong Kong. Cuaca cukup cerah dengan sedikit awan kelabu. Para anggota rombongan pun berkumpul di satu sudut dekat kamar kecil, seperti kebiasaan (hahaha). Setelah semua siap, kami pun berjalan bersama menuju ke area food court. Dari sini saya mulai memperhatikan wajah para peserta tur.

Image/photoarrived at hk by Christian Halim, on Flickr

Image/photodragon air in the morning by Christian Halim, on Flickr

Suasana sepi mulai berubah. Toko-toko bebas pajak mulai tampak di kanan-kiri kami. Dan jumlah manusia pun makin bertambah. Di dekat barisan eskalator yang ramai, Jerry memberi pengarahan kepada kami untuk memperhatikan layar informasi demi mengetahui gate yang akan dituju. Di lain pihak, waktu kami masih amat banyak. Ada lima jam sebelum penerbangan berikutnya ke kota Kunming. Sekarang, saatnya sarapan.

Hong Kong International Airport, atau juga dikenal dengan Chek Lap Kok Airport, merupakan salah satu bandara tersibuk di dunia. Dibangun di atas tanah reklamasi, bandara ini beroperasi semenjak tahun 1998, menggantikan bandara sebelumnya, Kai Tak Airport. Di tempat ini, ada lebih dari 100 maskapai penerbangan yang beroperasi 24 jam, menghubungkan para penumpang ke lebih dari 180 kota di seluruh dunia. Tak heran, jumlah pengunjung yang lalu-lalang pun tidak pernah berkurang, bahkan di tengah malam.

Waktu masih menunjukkan pukul 6 lebih sedikit, namun area food court yang terletak di lantai atas tidak menunjukkan tanda-tanda sepi. Sebaliknya, hampir seluruh meja tengah dipadati pengunjung yang tengah bersantap. Sebagian lain sibuk mengantri. Kalau dilihat, memang tempat ini seperti surganya kuliner. Ada banyak sekali restoran dan kedai yang menyajikan beragam hidangan khas Asia dan Eropa. Beberapa di antaranya tampak dipadati antrian yang mengular.

Image/photofood court in the morning by Christian Halim, on Flickr

Image/phototsui wah eatery by Christian Halim, on Flickr

Setelah berjuang mendapatkan meja kosong, kami pun segera menuju ke salah satu stall yang memang sudah diincar sejak dari Indonesia: Tasty Congee & Noodle Wantun Shop. Menu yang diincar, apalagi kalau bukan dim sum dan wonton noodle khas Hong Kong. Seperti kata pepatah kuno, "When in Rome..."

Antrian yang tidak terlalu panjang (dibandingkan Tsui Wah, kedai saingan di sebelahnya) telah menunggu kami. Sejenak saya memperhatikan orang lain untuk mempelajari bagaimana cara memesan makanan. Rupanya, kedai ini menyediakan menu di selembar kertas besar. Sambil mengantri, pengunjung bisa menandai makanan yang ingin dibeli dengan bolpoin, yang lalu tinggal diserahkan ke kasir. Setelah itu, kita akan mendapatkan nomor antrian di secarik kertas. Di counter sebelah kasir, ada dapur dengan papan angka terpasang di atasnya. Saat nomor pesanan muncul, kita tinggal mengambilnya. Mudah sekali untuk orang asing yang tidak bisa berbahasa Kanton (meski bahasa Inggris pun berlaku di sini).

Saya "sedikit" kalap ketika itu. Selagi di Hong Kong, apa salahnya memesan agak banyak. Tiga mangkuk wonton noodles, 5 jenis dim sum, segelas mango honey dan 2 botol air mineral pun berpindah tangan. Tiga nampan pun dibawa ke meja, dan waktu santap pagi dimulai.

Image/photodimsum 1 by Christian Halim, on Flickr

Image/photodimsum 2 by Christian Halim, on Flickr

Image/photodimsum 3 by Christian Halim, on Flickr

Image/photowonton noodles by Christian Halim, on Flickr

Pertama saya mencicipi wonton noodles. Mie lembut, berpadu dengan kuah hangat yang rasanya tidak terlalu kuat, dilengkapi dengan beberapa potong wonton, semuanya meluncur di tenggorokan kami. Hmmm. Kemudian dilanjutkan dengan dim sum. Rasanya hampir mirip dengan yang biasa ditemui di Indonesia. Pelan-pelan, tak terasa rasa kenyang mulai menjalar. Padahal masih ada beberapa potong kue lobak dan lumpia yang tersisa. Mau tidak mau, kami berjuang menghabiskannya. Sayang kan jika membiarkan makanan terbuang.

Wah, puas rasanya bisa bersantap pagi di Hong Kong, meskipun hanya di bandaranya. Dengan perut super kenyang, kami memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar, sambil sesekali mengecek papan pengumuman. Jam di tangan menunjukkan kira-kira pukul 8 pagi.

Entah sudah berapa lama kami menyusuri jajaran pertokoan, ketika akhirnya nomor penerbangan kami, KA 760, muncul. Jam keberangkatan memang masih lama (11.50), namun gate yang dituju ternyata jauh. Saya pun mengajak keluarga untuk menuju kesana.

Tidak sulit mencari gate karena terbantu papan petunjuk yang tergantung dimana-mana. Kami tinggal mengikuti arahnya saja. Rupanya tempat tujuan kami terletak di terminal lain, dan harus menggunakan kereta cepat untuk sampai ke sana. Wah, besar sekali rupanya bandara ini. Ada sedikit was-was juga, bagaimana kalau sampai tersasar. Ah, jalani sajalah, pikir saya dalam hati.

Image/phototowards the gate by Christian Halim, on Flickr

Akhirnya kami sampai di gate yang dituju. Tempatnya luas sekali, dengan deretan kursi kosong di mana-mana. Kami mengenali beberapa rombongan tur yang juga sedang berjalan-jalan menghabiskan waktu. Kebetulan saat itu Ayah sedang kurang sehat, jadi kami hanya duduk-duduk saja sembari memperhatikan orang.

Pukul 10.15, sambil lalu saya melihat-lihat sekeliling. Ada beberapa toko duty free dan sedikit restoran, cocok untuk santap siang sebelum berangkat kembali. Ada dua restoran yang menarik perhatian. Keduanya menawarkan Chinese food. Di dekat pintu masuk, mereka memajang lemari pendingin dengan beragam milk tea di dalamnya. Tampaknya lezat, jadi saya memperhatikan lebih dekat.

"Excuse me... can you speak English?" seorang gadis asing tiba-tiba bertanya. Saya tebak ia berasal dari kawasan Timur Tengah.

"A little..", jawab saya.

Rupanya ia juga tertarik dengan jajaran milk tea tersebut. Dengan logat Inggris yang baik, ia menanyakan, kira-kira mana yang lezat. Wah, saya juga belum pernah mencoba, kata saya sambil tersenyum. Lalu ia menunjuk ke salah satu gelas berwarna ungu dengan label "taro".

"What is this?"

Hmmmm, taro itu berarti umbi-umbian yah... Namun bagaimana saya menerangkannya? Apa istilah Inggrisnya umbi-umbian? Sulit juga...

"It's like those roots, I think... right?" rupanya ia pun sudah mengerti.

"Ah, that's right!"

Lalu saya tinggalkan sang gadis yang masih bingung menentukan pilihannya. Dalam hati, saya berjanji untuk lebih memperdalam istilah-istilah dalam bahasa Inggris agar dapat membantu orang lain suatu saat nanti.

Karena Ayah harus minum obat, kami pun memutuskan untuk masuk ke sebuah restoran untuk makan siang. Ada beberapa orang lain yang juga sedang bersantap. Setelah memilih meja, pelayan pun datang membawakan kami menu, dengan agak kasar kalau boleh saya bilang. Entah adat-istiadat setempat atau memang ia sudah lelah, saya kurang tahu.

Image/photofried rice for three by Christian Halim, on Flickr

Kami pun memesan seporsi nasi goreng dan dua cangkir milk tea. Tanpa menunggu lama, hidangan tersebut diantar ke meja, lengkap dengan 2 mangkuk kosong dan sendok ekstra. Sang pelayan pandai membaca situasi.

Image/photodragon air boarding by Christian Halim, on Flickr

Sekitar pukul 11 lebih, terdengar pengumuman dari pengeras suara bahwa waktu boarding kami sudah tiba. Cukup banyak juga penumpang siang itu. Pesawat yang akan ditumpangi berukuran lebih kecil dengan logo naga merah tergambar di sayapnya. Meski kecil, namun di masing-masing kursi tetap terdapat layar LCD kecil. Lumayan sebagai penghibur.

Tak terasa, kami pun kembali mengudara menuju daratan Tiongkok. Butuh waktu dua jam untuk sampai ke kota Kunming.

to be continued...



2 years ago

Joseph Soebagio

Joseph Soebagio

mantap ni..traveling terus



2 years ago

Tiongkok, negeri sejuta pesona... Terbentang luas di benua Asia, berbatasan dengan wilayah Asia Tengah dan berakhir di laut Tiongkok Timur, Tiongkok adalah negara terbesar kedua di dunia. Memiliki ta...

Petualangan di Yunnan - Prologue

Christian Halim

Tiongkok, negeri sejuta pesona...

Terbentang luas di benua Asia, berbatasan dengan wilayah Asia Tengah dan berakhir di laut Tiongkok Timur, Tiongkok adalah negara terbesar kedua di dunia. Memiliki tanah yang kaya dan sumber daya manusia berlimpah, Tiongkok juga terkenal dengan keindahan dan keanekaragaman alamnya. Semenjak dimulainya reformasi besar-besaran oleh Deng Xiaoping pada masa akhir 1970-an, Tiongkok mulai membuka dirinya dan mempermudah wisatawan dari negara lain untuk berkunjung. Perlahan-lahan, jumlah wisatawan pun makin bertambah. Di tahun 1985 saja, tercatat kira-kira 1,4 juta orang telah datang ke Tiongkok. Situs Travel China Guide pun memperkirakan, di paruh kedua tahun 2016 pun, jumlah total pengunjung akan mencapai 72 juta.

图像/照片china-map_-_Copy by Christian Halim, on Flickr

Secara administrasi, Tiongkok memiliki 22 provinsi, tersebar dari wilayah utara (daerah Mongolia Dalam yang merupakan daerah otonom) sampai ke selatan (kepulauan Hainan). Di sebelah barat daya, berbatasan dengan Vietnam, Laos dan Burma, terdapat sebuah provinsi yang terkenal dengan alamnya. Namanya provinsi Yunnan.

Terletak di daerah pegunungan, Yunnan merupakan provinsi yang kaya dengan hasil tambang, beberapa di antaranya aluminium dan timah. Alamnya pun menyimpan beragam jenis tumbuhan. Aneka kebudayaan yang berbeda pun dapat ditemukan di sini, mengingat banyaknya jumlah suku minoritas yang tinggal turun temurun sejak ribuan tahun silam.

---

Kamis, 2 Juni 2016

Kami tiba di bandara Soekarno - Hatta pada sore hari. Seperti biasa, terminal 2D selalu dipadati para pelancong. Sambil menunggu waktu berkumpul, kami menikmati santap sore di tengah cuaca yang cukup panas.

Pukul 7 malam, seorang pria muda berkemeja kotak-kotak dengan senyum ramah datang menghampiri kami yang sedang duduk di ruang tunggu. Ia memperkenalkan diri sebagai pemimpin rombongan yang akan mendampingi kami selama 11 hari di Yunnan.

Selain kami bertiga, rupanya beberapa peserta lain pun sudah menunggu tidak jauh dari kami. Berbeda dengan perjalanan ke Korea yang biasa didominasi anak muda, kali ini peserta berusia "tua" mendominasi rombongan. Hanya ada tiga orang (termasuk saya) yang masih bisa dibilang "anak muda". Sisanya harus saya panggil om dan tante.

Ketika saya sedang mengamati mereka, terlihat wajah yang tampaknya tidak asing bagi saya. Sepasang suami istri yang entah pernah saya lihat di suatu tempat. Ah, mungkin cuma perasaan saya, pikir saya. Namun dugaan saya menguat ketika sang suami berjalan ke arah saya. Rupanya beliau pun mengenali saya. Tidak salah duga, ternyata beliau adalah bapak yang pernah satu rombongan dengan kami ketika menjelajah ke Jiuzhaigou beberapa tahun yang lalu. Istrinya pun dengan mudah mengenali keluarga kami. Sejenak kami bertegur sapa, mengingat kenangan masa lalu. Rupanya dunia ini kecil juga...

Saat untuk check-in pun tiba. Kali ini kami menggunakan maskapai Cathay Pacific. Wah, sudah lama sekali sejak terakhir kali terbang bersama mereka. Agak berbeda dengan pengalaman sebelumnya, Cathay Pacific kini menerapkan aturan check-in yang lebih ketat. Jika biasanya dibantu oleh petugas dari tur, sekarang setiap keluarga harus "menyetor wajah" di depan counter sambil memasukkan bagasi.

Setelah selesai, masih banyak waktu tersisa. Kami pun menunggu dengan sabar sambil melihat-lihat. Sementara malam semakin larut. Ya, penerbangan kali ini pun adalah penerbangan red-eye yang bisa dibilang melelahkan.

Jam menunjukkan hampir pukul 23.30 ketika proses boarding dimulai. Rupanya penerbangan malam ini pun cukup ramai. Sepertinya hampir semua kursi terisi penuh. Setelah menaruh tas di overhead compartment, saya pun menarik nafas lega. Tinggal menunggu waktu take-off. Baru awal perjalanan, namun tubuh saya terasa penat. Semoga bisa mendapat cukup istirahat selama penerbangan ini.

Beberapa saat kemudian, terdengar sayup-sayup suara kapten berbicara dari dalam kokpit, menjelaskan tentang penerbangan yang akan kami jalani. Para pramugari pun dengan sigap memeriksa kondisi kabin sebelum duduk di kursi masing-masing.

"Cabin crew, prepare for take off"

Serentak, lampu kabin pun dipadamkan, deru mesin pesawat pun semakin keras terdengar. Dari balik jendela hanya terlihat kerlipan lampu-lampu runway.

Perlahan-lahan, pesawat kami pun terbang, menuju ke kegelapan malam...

to be continued...



2 years ago

Joseph Soebagio

Joseph Soebagio

mantap nih, mulai rajin



2 years ago

Christian Halim

Christian Halim

pas lagi dapet mood-nya...



2 years ago

Hujan rintik-rintik di pagi hari… Tokyo Tower terlihat jelas dari balik jendela kamar… IMG_1167 IMG_1180 Selesai sarapan lezat, angkat-angkat koper, naik bis menuju ke bandara. Pengalaman tak ...

Japan Futatabi (Day Seven) - Epilogue

Christian Halim

Hujan rintik-rintik di pagi hari…

Tokyo Tower terlihat jelas dari balik jendela kamar…

Изображение / ФотоIMG_1167

Изображение / ФотоIMG_1180

Selesai sarapan lezat, angkat-angkat koper, naik bis menuju ke bandara. Pengalaman tak terlupakan selama enam hari. Sedih rasanya harus pulang kembali.

Изображение / Фото20150516_070601

Ok, enough with sentimentality. Saatnya me-review perjalanan kali ini:

Mengunjungi Jepang di bulan Mei tidaklah terlalu mengecewakan. Suhu udara tidak lagi terlalu dingin, namun juga belum menjadi super panas. Hujan turun cukup sering, jadi disarankan untuk menyiapkan payung atau jas hujan.

Sedikit hal yang mengganjal adalah ditutupnya beberapa tempat di rute pegunungan Alpine akibat cuaca. Agak sayang kami tidak bisa melihat bendungan raksasa yang biasa ditampilkan di brosur perjalanan . Kemudian kunjungan ke Shirakawa-go yang kurang memuaskan: salju sudah tidak ada, malah diganti hujan lebat, membuat kami seakan hanya numpang lewat disana.

Harga Gundam model kit ternyata lebih mahal meskipun di toko resmi Bandai (karena ini tempat turis). Lebih baik belanja di Yodobashi Camera dan toko sejenisnya.

Beberapa daerah menjual produk Kitkat yang berbeda. Jadi bagi para kolektor dan penikmat coklat, bersiaplah bertemu Kitkat asing yang siap masuk koper.

Oleh-oleh lain yang amat disarankan adalah Tokyo Banana dan Potato Farm. Yang terakhir ini pasti tidak cukup hanya makan satu kotak, apalagi hanya satu bungkus. Barangnya bisa dibeli di airport ketika pulang.

Sebagai penutup, skor akhir untuk trip ini: 8/10

Definitely would go there again!

Изображение / ФотоIMG_0837


4 comments show more

2 years ago

Joseph Soebagio

Joseph Soebagio

yang cerita mengenai hantu di kantor, di uploaded di blog? Ga papa, taro aja lagi di sini, biar ga kepotong, soalnya nanti gw pengen bikin format cerita yg nyambung terus



2 years ago

Christian Halim

Christian Halim

Yg itu memang belum dilanjutin, hiatus, haha. Sip, ntar kalo dah bikin, tak taro sini ya.



2 years ago

Excelsior

Category: Fiction

There’s an old story; A story about two persons from two different worlds. A colorless boy from a colorful world, and a colorful girl from a colorless world. Accidentally, they meet at the border ...

'A Fairy Tale of Color'

Excelsior

Category: Fiction

There’s an old story; A story about two persons from two different worlds. A colorless boy from a colorful world, and a colorful girl from a colorless world. Accidentally, they meet at the border of those worlds. They can’t speak one to another because of the difference in their language. Even without words, both of them understand each other. And they always meet at the border.
But someday, suddenly the boy has something in his mind… ‘Why my world and this girl are so colorful, meanwhile I’m colorless ? Is it fair ?!’
Slowly but sure, the boy starts to feel jealous. And one day, he takes over all the color from the girl. But at the same time, there’s a big change to their worlds; A colorful world becomes a colorless world, and a colorless world becomes a colorful world. When the boy back to his world, all the color from his world has vanished. He cries and scream, ‘Is it my fault, because I take the color from her ?!’
But what’s happened cannot be undone. When the boy goes to a border, the girl isn’t there anymore.
‘Fool, I’m really a fool ! I just realize, that it’s not a color in me which is important. I have lost color from my world, and color from that girl; I have lost everything to gain this color !’
So the colorful boy starts a journey to find what he’s already missing…



2 years ago

Joseph Soebagio

Joseph Soebagio

ini ada lanjutannya, man?



2 years ago

Saya suka membuat miniature, dan semua berawal dari kecintaan saya terhadap kapal-kapal layar jaman dahulu. Ini beberapa miniature awal saya... MozaikClub – Memory through Stories of Art, Scien...


2 years ago

Amry Saja

Category: Reflection

KENAPA PILIH LAGI BALI?? Banyak kawan,kolega dan saudara2 bertanya tanya sambil geleng2 kepala untuk alasan mengapa saya pilih pindah ke Bali Lagi.... Setiap org yg tanya, ku jawab gw merasa berjodo...

A Writing By

Amry Saja

Category: Reflection

KENAPA PILIH LAGI BALI??

Banyak kawan,kolega dan saudara2 bertanya tanya sambil geleng2 kepala untuk alasan mengapa saya pilih pindah ke Bali Lagi....

Setiap org yg tanya, ku jawab gw merasa berjodoh dengan Bali sejak kedatangan yang pertama tahun 2012.
Merasa berjodoh itu apa artinya apa ? Tentu saja bersifat personal dan hanya gwe yg mengerti 100% maknanya.

Refleksi untuk hal ini yg gue mau cerita ke pembaca sekalian.

Awalnya gue tidak pernah berencana ke Bali, terpikir pun tidak.

Selesai merasa cukup selama hampir 9 thn berkarir di perusahaan gede di jakarta dgn ragam karir dan job desc, gue pikir cukup sudah urusan karir saatnya "business for real" plus mungkin juga bosen dengan tensi kerja di jakarta dan butuh tantangan lebih.

Tiba tiba ada tawaran dari temen ke bali jadi manager villa bambo; AHAAA..ini dia panggilan dari langit. Ternyata cerita jadi manager 7 villa green village umurnya tidak panjang juga karena gue dapat tawaran mengurus usaha distribusi bhn bangunan di bali. Dari job ke 2 inilah kisah penuh makna di bali pertama dimulai.

Modal capital saja memang tidak cukup untuk memulai bisnis. Jaringan atau network juga berperan penting. Justru network yg aku nihilll,tapi ada kok solusinya yaitu rajin , sopan dan muka tebal.

Sebagai contoh untuk mengantar barang ke customer toko, saya sampai mencoba bertanya dan nego sampai kira2 sebanyak 25 tempat sampai akhirnya ku dapat ada yg mau menyewakan mobilnya secara reguler setiap hari. Prinsip pantang menyerah dan sudah kadung kepepet ternyata ada hasilnya TERBUKTI

To be continue



2 years ago

Dipa Raditya

Category: Light Reading - Humor

Sebagai anak ahensi yang hobi lembur (jika klien berkehendak), saya butuh asupan buah-buahan untuk menjaga stamina, menyuplai vitamin agar sehat dan biar terlihat sebagai warga negara yang baik yang m...

Semangka Biang Gula

Dipa Raditya

Category: Light Reading - Humor

Sebagai anak ahensi yang hobi lembur (jika klien berkehendak), saya butuh asupan buah-buahan untuk menjaga stamina, menyuplai vitamin agar sehat dan biar terlihat sebagai warga negara yang baik yang mengikuti anjuran pemerintah, makan makanan 4 sehat 5 sempurna. Biasanya, saya membeli buah buahan segar dan memotongnya sendiri di kantor, lalu saya bubuhi dengan garam buah buahan biar sedikit berasa. Pernah pada suatu hari, saya melihat video tentang komunitas fruitarian di luar negeri dan mencoba sarapan dengan menu terdiri dari nanas, semangka, pepaya, melon serta apel tanpa garam buah-buahan. Hasilnya? Saya lemas tak terkira biarpun perut kenyang. Mungkin benar juga, kata sebuah pepatah alah bisa karena biasa dan perut saya yang terbiasa dengan sarapan karbo sebagai ide absolut belum menerima dialektis baru yaitu si buah buahan. Lemas badan, namun muka terlihat lebih sedikit segar biarpun aura ketampanan tetap tidak terpancar karena ulah genetik.

Hari itu, saya berjalan-jalan ke arah Wisma 77 untuk sekedar melepaskan penat dan menghilangkan kangen akan kamu yang kupuja di sana. Waktu menunjukkan jam 5 sore, namun pengap dan lembab membuat saya mudah berkeringat jadi sebagai manusia (yang ngaku) rasional, saya mampir ke abang-abang penjual buah buahan. Saya memutuskan memilih buah yang kadar airnya tinggi yaitu semangka. 1 potong hanya dibanderol 4k rupiah. Jadi, saya beli itu saja dan saya menggigit buah itu perlahan. Buah semangka yang saya beli sedikit lebih berair dari biasanya dengan kadar manis yang tidak biasa. Buah semangka punya rasa manis yang ke arah menyegarkan sedangkan, buah semangka yang ini lebih ke arah manis yang diberi kebanyakan gula. Namun kadung lapar, jadi saya makan saja sampai licin tandas. Tidak sampai beberapa menit, lidah saya merasakan pahit yang gak biasa. Sensasinya mirip seperti sehabis minum es teh manis abang abang gerobakan ketika saya duduk di bangku SD dulu. Ada after taste sedikit yang tidak biasa dan bikin saya semakin haus.

Mungkin ada zat tambahan yang dipakai si abang penjual biar rasa buah buahannya makin enak dan biar lebih laku dijual. Entahlah, pikiran saya sudah malas bertanya. Mungkin cinta seperti biang gula, manis di awal namun sepat di akhir rasanya. Rasa manis yang fana dan tidak tinggal selama-lamanya. Mungkin saya akan mencoba buah-buahan lain kalau bertemu lagi dengan pedagang itu.



2 years ago

Joseph Soebagio

Joseph Soebagio

ohhh... jadi udah bisa login yah



2 years ago

Mario Lengkey

Category: Reflection

How I discovered you was kind of vague now. I know I've heard it somewhere before, but I think Blowin' in the Wind was the proper introduction. And boy how it changed my life. You are a rock poet. Bef...

A Letter to Bob

Mario Lengkey

Category: Reflection

How I discovered you was kind of vague now. I know I've heard it somewhere before, but I think Blowin' in the Wind was the proper introduction. And boy how it changed my life. You are a rock poet. Before going electric, your stuff was folk legend. After it you're an instant rock and roll star.

Hey Bob thanks for introducing marijuana to The Beatles. Without it there wouldn't be any Pepper or Abbey Road. And without Pepper there wouldn't be any rock music as we know today. Hey Bob thanks for inspiring Jimi Hendrix, Neil Young, Joni Mitchell and others. Young Springsteen listened to your song on the radio one summer and his ma said that you can't sing. Rock and roll is safe and sound.

You were there when Martin Luther King uttered that speech. I have a dream, he said. You even sang a couple of songs. With Joan Baez yes you did. You inspired the whole generation with those songs, you were their spokesman. O how I wish I was a baby boomer. Getting stoned with your songs and Stones'.

Above all, thanks for the music. Congratulation for the well deserved Nobel Prize in Literature. Hey Mr. Tambourine man, play another song for me.



2 years ago

Joseph Soebagio

Joseph Soebagio

hmm? demen bob dylan?



2 years ago

Astrid C

Category: Fiction

“Ngopi yuk.” Tahukah kamu berapa banyak percakapan menarik bermula dari minum kopi bersama? Dengan menjamurnya coffee shop alias kedai kopi dimana-mana, kata “nongkrong” berubah jadi “ngopi...

Cerita dari Meja Kedai Kopi (01)

Astrid C

Category: Fiction

“Ngopi yuk.”

Tahukah kamu berapa banyak percakapan menarik bermula dari minum kopi bersama? Dengan menjamurnya coffee shop alias kedai kopi dimana-mana, kata “nongkrong” berubah jadi “ngopi”. Waktu untuk ngopi pun beragam. Setelah jam kantor, akhir minggu, setelah makan siang, sepulang kuliah, menunggu jalanan macet, sambil meeting, menjodohkan teman pun bisa sembari ngopi.

Meja -meja di kedai kopi, pastinya menjadi saksi bisu banyak percakapan dan cuplikan peristiwa dari banyak kehidupan. Setiap hari isinya berganti merekam banyak cerita bersama dengan bergantinya manusia-manusia yang duduk disini. Satu episode berbeda dengan episode yang lain. Kadang ada lanjutan dari episode-episode kemarin, kalau memang sedang seru. Mereka akan kembali lagi kesini besok-besonya untuk melanjutkan yang kemarin.

Kadang mereka tak kembali lagi. Karena cuma kebetulan singgah di daerah itu. Ada yang jadi tamu tetap, karena kantornya tidak jauh dari situ, atau kopinya murah untuk kantong mahasiswa, atau memang karena kopinya enak dan khas. Alasan mereka tidak penting. Yang selalu menarik adalah percakapan orang-orang ini ketika ngopi.

Kali ini, saya beri satu cerita dari meja kedai kopi. Kedai kopi ini adalah satu dari sekian banyak cabang dari gerai kopi internasional yang tumbuhnya mengalahkan warung bakso di kota metropolitan. Mereka banyak membuka gerai di perkantoran. Segmen yang amat tepat. Dan sore hari menjelang matahari terbenam biasanya saat ramai.

“ Pernah lihat perempuan ini?” Seorang pria empat puluhan menunjukkan foto seorang perempuan berbaju ketat hitam dengan belahan dada rendah di telepon genggamnya ke teman perempuan yang duduk satu meja di depannya. Mereka baru selesai meeting dan memutuskan duduk-duduk santai sebelum dibantai pekerjaan mereka sampai larut malam.

“ Wiiih! Siapa nih?” Teman perempuannya tertawa. “ Syukur deh, kalau tidak kenal.” Si pria tersenyum simpul lalu menyeruput kopi gelas besarnya. “Siapa itu Pak? Saya tidak kenal, jangan kuatir.” Nampaknya mereka bukan sekedar kolega. Lebih tepat seperti atasan dan bawahan, dari cara bicara si perempuan yang rambutnya kemerahan dan memang tampak lebih muda dari si pria.

“ Siapa itu, Pak? Bapak kalau mau cerita jangan tanggung-tanggung.” Desak si rambut merah yang mulai menyeringai lebar, seolah tanduknya keluar ketika mencurigai atasannya diam-diam juga berekor dan bertanduk. “ Teman.” Jawab atasannya sambil senyum-senyum. “ Tidak mungkin.” Si perempuan mulai tertawa dan memajukan badannya ke depan. “Bapak bohong.” Tuduhnya.

Lalu atasannya mulai menceritakan pelan-pelan, sepelan suaranya (tapi saya masih bisa dengar). Nampaknya dia percaya kalau si perempuan ini tidak akan menyampaikan cerita ini kemana-mana, apalagi ke istrinya. Sebaiknya dia jangan jahat-jahat jadi atasan. Dia baru saja melepas kartu As-nya ke tangan anak buahnya. Dia sudah lama menemui perempuan itu diam-diam di belakang istrinya yang sudah memberi dia tiga anak. Iseng. Bosan. “ Klise. Tapi tidak apa-apa. Saya bukan Tuhan.” Sahut anak buahnya.

Awalnya, atasannya menceritakan seolah-olah kalau dia menemui perempuan ini hanya untuk sekedar makan siang dan ngopi. Tapi bawahannya tidak naif. Tidak ada kenaifan dari perempuan yang ulasan gincunya seketal darah bocah. Dan akhirnya cerita nyaris lengkap bergulir dari si pria yang berkumis tipis dan berbaju batik. “ Jarang ketemu? Yakin?? Besok malam kan bisa ketemu. Besok jadwal olah raga kantor, Bapak bisa pergi menemui dia tanpa dicurigai orang rumah.” Bawahannya memang senakal warna gincunya ternyata. “ Kompor.” Ledek atasannya. “ Santai. Saya tidak berhak menghakimi orang lain. Saya belum tentu lebih baik dari itu.” Sahut si perempuan tandas dan atasannya diam.

“ Memang bisa jadi alasan yang bagus sih, besok malam.” Si pria akhirnya setuju beberpa saat kemudian. “ Hati-hati, Pak. Main yang bersih. Jangan berteman dan salah posting si media sosial.” Bawahannya mengingatkan. “ Memang tidak pernah. Itu cara paling cepat untuk dilacak.” Si bapak ternyata lihai.
“ Setelah sekian lama, massa dia tidak minta kepastian?” tanya si perempuan. “ Kepastian? Kalau saya tidak di posisi yang sekarang, dia juga tidak mau dekat-dekat. Kita kenal sudah lama, waktu saya belum jadi siapa- siapa, dia tidak pernah ada niat berteman. Sudah jelas kan motifnya?” jawab atasannya. Perempuan bawahannya diam saja. Menelaah.

“ Yang penting jangan pakai perasaan.” Sambung atasannya dan wajah si perempuan berubah. “ Maksud Bapak, jadi Bapak sama sekali tidak sayang atau bagaimana?” Dia bertanya agak kencang. “ Untuk orang yang datang ketika kita sudah jadi orang, untuk apa? Sudah jelas. Dia tidak ada kontribusi apa-apa menjadikan saya seperti sekarang.” Jawab si pria.

“ Bapak terbangkan dia ke tempat Bapak tugas untuk menyusul dan Bapak tidak punya perasaan lebih???” Ini semua membingungkan si perempuan. Matanya menyipit dan dahinya berkerut. “ Sepi di luar kota. Biar ada yang menemani.” Jawab atasannya ringan. Si perempuan menatap lekat-lekat atasannya. Menilai tampaknya. Atasannya bukan pria paling gaya yang pernah ada di meja itu. Tapi mendengar ceritanya, dan bawahannya memesan minum seenaknya tanpa mengeluarkan dompet, dia pasti punya jabatan.

Si perempuan terdiam. Entah apa yang ada di pikirannya. Apakah dia ingin menyiram atasannya dengan kopi panas, atau mungkin dia memikirkan percintaannya sendiri. Karena wajahnya mengkerut begitu dalam begitu atasannya menyebutkan “jangan pakai perasaan”.

“ Apapun yang kamu lakukan, jangan libatkan hatimu untuk urusan seperti ini.” Atasannya seperti memberikan kuliah singkat Selingkuh 101. Dan si perempuan cuma tertawa tanpa banyak kata-kata terlontar dan makin lama tawanya makin lebar. Dan akhirnya dia diam, termangu dengan mata menerawang. Atasannya sibuk melihat telepon genggamnya. Mungkin ada pesan dari si wanita berbaju hitam itu.

“ Balik ke kantor yuk. Biar cepat pulang.” Ajak si perempuan. Atasannya setuju. Ketika mereka menuju pintu keluar, si perempuan berjalan di belakangnya dengan wajah tampak penuh pikir. Entah apa yang akan terjadi dalam perjalanan mereka ke kantor.

Saya cuma berharap, si perempuan itu tidak akan jadi perempuan berbaju hitam dengan belahan dada rendah selanjutnya. Tidak oleh atasannya, tidak juga oleh siapa pun.

Saya tidak pernah melihat mereka lagi setelah itu.



2 years ago

Joseph Soebagio

Joseph Soebagio

mana lanjutannya



2 years ago

Dipa Raditya

Category: Light Reading - Humor

Selalu aneh ketika saya selalu mengantuk di jam kerja tapi mata nyalang ketika mau tidur. Seperti otak saya yang tiba tiba saja suka bilang begini ketika memasuki jam tidur, 'nyikat kamar mandi bisa n...

Unidentified fried meatball

Dipa Raditya

Category: Light Reading - Humor

Selalu aneh ketika saya selalu mengantuk di jam kerja tapi mata nyalang ketika mau tidur. Seperti otak saya yang tiba tiba saja suka bilang begini ketika memasuki jam tidur, 'nyikat kamar mandi bisa nih' atau 'satu halaman lagi deh' atau 'satu episode lagi, sabi nih'. Ujung-ujungnya baru tidur menjelang jam 3 pagi dan bangun jam 6 pagi dalam keadaan kelelahan. Begitu terus hingga beberapa bulan belakangan ini.

Biasanya temen kantor saya akan bilang "kok wajahmu lemes gitu?' Saya jawab saja, 'iya nih mau audisi Daredevil' atau 'Iya tadi malam abis berantem lawan Skaven'. Jawab dengan meyakinkan maka dijamin besok anda tidak akan punya temen kantor sama sekali. Persis seperti yang saya alami.

Oke kembali ke cerita insomnia tadi. Daripada bengong menunggu kantuk, biasanya saya sedia amunisi. Dulu saya sempet ketagihan sama dua jenis benda pemuas hasrat pemuda galau bermodus insomnia, rokok dan chat WhatsApp gebetan yang tak kunjung dibalas. Sekarang, saya lebih pilih ketagihan sama satu saja yaitu chat kemudian hening karena tak berbalas. Kok saya bisa ketagihan sama satu itu? Jadi begini ceritanya, menurut mbah Franco Berardi, manusia itu dari sononya pejuang hasrat tapi gak mau dilahap hasrat. Miriplah sama omongan filsuf cinta dari tanah Sentral, yaitu Tian Feng yang bilang 'dari dulu memang beginilah cinta, penderitaannya tiada akhir.'

Nyambung? Tentu tidak. Argument itu cuma bisa dipahami ante re bukannya in re.

Berhubung saya kekurangan 1 objek pemuas desire lain yang lebih gampangnya disebut lapar. Saya mesti cari objek lain sampai pada satu hari saya menemukan hal tersebut.

Kantor saya berada di nomor 75 sedangkan pusat jajanan seantero Slipicon Valley ada di gedung 77. Sembari cuci mata melihat lihat pemamdangan, biasanya saya beli jajanan. Sebenarnya saya orangnya tidak terlalu suka jajan karena banyak alasan salah satunya pengen punya badan kayak Tim Drake. Alasan lainnya karena memang malas keluar uang. Sesekali tidak ada salahnya. Mata saya yang tajam layaknya Quarreler ini tertuju pada satu gerobak angkringan. Ah, nostalgia sama Yogya deh. Tanpa basa basi lagi, saya langsung ambil 4 tusuk sate siput, sate usus dan satu lagi benda menarik yang sepertinya kenyal. Saya ambil 4 tusuk juga. Dan ia yang saya coba pertama kali. Saya gigit sedikit dan gurih micinnya langsung datang tanpa permisi. Gak sopan sekali enaknya ini. Saya sebut makanan ini dengan ufm. Unidentified fried meatball biar sok sok science fiction gitu. Unidentified karena saya gak tahu itu dari daging apa. Rasanya cuma kayak kanji dibumbuin dan dimutasi sedemikian rupa dan digoreng dengan minyak yang hitamnya lebih pekat dari armor Black Panther. Rasanya boleh diadu tapi higienisnya cuma Odin yang tahu. Licin tandas sudah satu piring. Saya memutuskan untuk beli 10 tusuk lagi kalau saya lapar malam hari atau ketika si dia datang ke alam bawah sadar secara tidak sopan, saya ada pemuas desire.

Seperti kata pengarang besar Soviet Union Ongol Ongolovicth di buku kanonnya Teorema Kripke untuk sastra bahasa Klingon, 'jauhi narkoba, dekati micin, perbanyak bercinta, hindari baper.' maka saya tahbiskan bola bola sate ajaib hasil kawin dari tepung kanji, micin dan entah daging apa sebagai teman saya melewati malam.

Cerita ini aneh bukan? Kan saya bilang ini bukan romansa. Salam tidak jadian, kakak adekan pun jadi.